Dalam keadaan seperti ini jasa paramedis dan obat-obatan sangat dibutuhkan, tapi kemampuan perekonomian belum mampu untuk membeli obat tersebut. Hal ini membuat banyak orang beralih dari pengobatan medis ke pengobatan tradisional dengan menggunakan tanaman-tanaman yang ada di sekitar rumah. Pengobatan tradisional ini terbukti lebih manjur dalam mengobati berbagai macam penyakit dengan efek samping yang sangat minim dan bahkan tidak berefek sama sekali, dan yang pasti cara pengobatan ini jauh lebih murah dan sangat sederhana.
Toga adalah singkatan dari Tanaman Obat Keluarga, yaitu pada hakekatnya pemanfaatan sebidang tanah baik di halamn rumah, kebun, ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan.
Menurut penelitian, manusia-manusia dahulu sudah memiliki pengetahuan tentang tanaman-tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat. Selain itu, mereka juga sudah dapat membedakan tanaman mana yang dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan dan obat-obatan, dan tanaman mana yang tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun. Tapi sayangnya pengetahuan itu hanya dalam bentuk lisan yang diturunkan kepada anak dan cucunya sehingga hanya orang-orag tertentu saja yang mengetahui dan menguasainya.
Belakangan ini baru ditemukan bahwa ternyata tanaman juga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi yang terbukti dapat mengurangi lonjakan natalitas. Jika penemuan ini terus dikembangkan di Indonesia maka kesejahteraan keluarga dapat terwujud. Karena dalam bukunya yang berjudul “Menuju Keluarga Sehat”, dr. Agus Setiawan mengatakan bahwa, “kesejahteraan bukan dilihat dari seberapa banyak harta yang dimiliki melainkan bagaimana ia mampu menciptakan suatu keluarga yang bahagia adalah dengan tidak memiliki anak terlalu banyak”.
Pengetahuan tentang tanaman obat keluarga (Toga) atau sering pula disebut apotik hidup sebenarnya sudah dipahami masyarakat secara turun temurun. Apabila masyarakat mau mempelajari manfaat dan pengolahannya, sebenarnya hampir semua penyakit bisa dicegah, dikurangi rasa ssakitnya dan bahkan disembuhkan. Sayangnya tidak banyak masyarakat yang menguasai pemnafaatan dan pengolahannya.
Seiring dengan berjalannya waktu, pemanfaatan toga semakin ditinggalkan.Ada beberapa hal yang membuat toga kurang diminati, antara lain:
- Kita terbiasa dengan hal yang serba mudah, cepat, dan tidak repot (instan).
- Gencarnya pabrik obat mempromosikan produknya.
- Kurangnya lahan untuk bercocok tanam.
- Sulitnya mendapatkan bibit-bibit tanaman obat.
- Untuk pengobatan penyakit dalam, rasa dari minuman toga atau seduhan relatif kurang enak.
- Kurang memahami pemanfaatan dan pengolahannya.
Akibatnya masyarakat baru mau mencari pengobatan alternatif atau tanaman obat apabila pengobatan modern sudah angkat tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar